Jumat, 06 November 2015

 

Penjelasan Surah al-Israa’ Ayat 25 Tentang Berbakti Kepada Orang Tua

Ayah-bunda  
“Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu, jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (al-Israa’: 25)

Ayat yang mulia ini datang mengiringi ayat yang berbunyi,
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” Al-Israa’: 23-24)
Seorang anak yang baik yang selalu memperlakukan kedua orang taunya secara baik, bisa jadi ia pernah mengucapkan kalimat “ah” sebagai suatu reaksi terhadap tindakan buruk bapak atau ibunya terhadapnya. Seorang anak yang baik juga bisa jadi pernah mengucapkan kata-kata yang keras kepada kedua orang tuanya atau kepada salah satu dari kedua orang tuanya. Allah Ta’ala mengetahui bahwa dia adalah orang yang baik dan tidak sengaja menyakiti kedua orang tuanya. Kalimat yang keras tersebut keluar dari mulutnya karena dia salah dalam menyikapi suatu persoalan.

Di samping itu, anak yang baik ini adalah seorang manusia, yang tidak ada bedanya dengan manusia yang lain yang terkadang juga terkena serangan emosi, kemarahan, kesalahan, dan dosa, sebagaimana manusia yang lainnya. Sehingga, dia pernah melakukan kesalahan terhadap kedua orang tuanya.
Akan tetapi, setelah dia melakukan kesalahan dan dosa tersebuh, dia merasa menyesal. Maka, orang yang seperti ini tidak pelu merasa putus asa terhadap rahmat Allah. Sebab, Allah Ta’ala selalu membuka pintu tobat baginya. Berdasarkan firman-Nya yang berbunyi,

“Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.”
Maksud ayat ini, “Wahai orang-orang yang bertobat yang meninggalkan perbuatan maksiatnya, jika kamu adalah orang-orang yang menyesali dosa-dosa kamu, maka Allah akan mengampuni kamu.”
Oleh karena itu, perbaikilah perlakuan Anda terhadap kedua orang tua. Hendaknya Anda selalu memohon kepada Allah agar diberikan taufik-Nya.

dalil berbakti kepada orang tua


Penjelasan Ath-thabari tentang maksud ayat ini tentang firman Allah adalah, “Tuhanmu,’ Wahai manusia sekalian, “Lebih mengetahui’ dari kalian, ‘apa yang ada dalam hatimu,’ yang berupa rasa hormat kalian, rasa penghargaan kalian, serta rasa berbakti kalian terhadap ibu dan bapak kalian. Juga pandangan reman kalian terhadap hak-hak mereka, dan rasa durhaka kalian sembunyikan di dalam dada kalian. Semua perasaan sama sekali tidak dapat disembunyikan dari Allah. Sesungguhnya Allah Ta’ala menetahui semua yang tersembunyi di dalam hati, baik hal-hal yang baik maupun hal-hal yang buruk.”
Oleh karena itu, jangan sampai Anda memiliki perasaan yang buruk terhadap orang tua dan jangan sampai Anda memiliki niat untuk berlaku durhaka kepada keduanya.

Maksud firman-Nya, “Jika kamu orang-orang yang baik,” yaitu jika Anda perbaiki niat buruk Anda dan menuruti perintah Alah yang berupa berbakti kepada kedua orang tua. Lalu melaksanakan kewajiban Anda terhadap mereka setelah sebelumnya kalian pernah melakukan kekhilafan dalam memenuhi kewajiban kalian terhadap kedua orang tua kalian-walaupun kalian selalu menjalani berbagai kewajiban Allah yang lainnya-maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun bagi orang-orang yang betobat.
Penjelasan al-Qurtubi rahimahullah tentang firman Allah Ta’ala-“Tuhanmu lebih mengetaui apa yang ada dalam hatimu.” Adalah, Tuhanmu mengetahui perasaan buruk yang kalian pendam terhadap orang tua kalian serta berbagai perasaan durhaka yang lalinnya yang ada di dalam hati kalian. Dia mengetahui hakikat orang yang menjadikan perbuatan berbaktinya sebagai perbuatan riya.
Semua penjelasan yang telah kami paparkan tentang maksud ayat ini sejalan dengan makna umum yang terkandung dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Setiap kali Allah menyebutkan ganjaran bagi dosa-dosa yang besar, sebagian besarnya selalu diiringi dengan tawaran untuk melakukan tobat. Sehingga, manusia tidak merasa putus harapan terhadap rahmat Allah Ta’ala.

Salah satu contohnya, yaitu setelah Allah Subhanahuwata’ala menyebutkan hukuman bagi para penyamun yang membuat kerusakan di atas bumi serta hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, kemudian Dia bukan bagi mereka pintu tobat. Sebagaimana yang Dia firmankan,
“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (al-Maaidah: 33)
Setelah Allah Ta’ala menjelaskan hukumannya, kemudian Dia buka pintu tobat bagi mereka dengan firman-Nya,
“Kecuali orang-orang yang tobat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketauilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (al-Maaidah: 34)
Begitu juga halnya orang-orang yang meninggalkan shalat, setelah Allah Ta’ala menceritakan tentang kisah beberapa nabi-Nya, Dia berfirman,
“Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu-nya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan”. (Maryam: 59)
Setelah itu, Dia buka pintu tobat bagi mereka dengan firman-Nya,
“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka itu diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Furqaan: 70)
Begitu pula halnya pada orang-orang yang melakukan tindakan pembunuhan, zina, dan orang-orang yang melakukan kemusyrikan. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala.
“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diramkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab ibu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh,” (al-Furqaan: 68-70)
Begitu pula halnya orang-orang yang membuat parit untuk membinasakan orang-orang yang beriman. Setelah itu, mereka lemparkan orang-orang yang beriman ke dalam parit tersebut. Sesungguhnya Allah masih membuka pintu tobat untuk mereka. Berdasarnya firman-Nya yang berbunyi,

“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahanam,” (al-Buruuj: 10)
Berdasarkan firman ini, seandainya mereka bertobat, maka Allah pasti mengampuni mereka.
Masih banyak lagi contoh yang ada di dalam Al-Quran yang membicarakan masalah tobat. Begitu pula halnya dalam masalah dosa yang dilakukan oleh seorang anak terhadap orang tuanya, tanpa memdulikan besar dan kecilnya dosa tersebut, jadi, bila dia mau menyadari dan memperbaiki kesalahannya, sesungguhnya pintu tobat selalu terbuka untuknya.

BERBAKTI pada orang tua merupakan kewajiban setiap anak. Hanya saja, yang menjadi kendala ialah ketika kita telah kehilangan keduanya. Bagaimana cara kita berbakti kepada orang tua?
Berikut ada 3 cara yang dapat Anda lakukan untuk berbakti pada orang tua yang telah wafat.
1. Mendoakan kedua orang tua
Doa merupakan cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal yang dapat dilakukan oleh seorang anak. Doa seorang anak yang shaleh dikatakan sebagai salah satu hal yang amat bermanfaat bagi orang tua. Oleh karena itu, sudahkah kita sisipkan doa untuk kedua orang tua kita yang sudah meninggal atau tiada di setiap sujud, shalat malam dan waktu-waktu yang mustajab dikabulkannya doa? Jika belum, hendaknya harus kita mulai membiasakan diri untuk melakukannya. Bukankah kita ingin membantu agar orang tua kita mendapatkan kebaikan di akhirat

2. Menunaikan nazar orang tua yang belum sempat terpenuhi
Nazar adalah janji seseorang yang wajib dipenuhi. Jika seseorang tidak sempat memenuhi nazarnya, maka kebaikan bagi ahli warisnya, atau anaknya dalam hal ini adalah memenuhi nazar yang belum dipenuhi oleh orang tuanya. Inilah hal lain yang dapat seorang anak lakukan sebagai cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal.

3. Bersedekah untuk orang tua
Sedekah merupakan salah satu ibadah yang pahalanya amat besar. Jika orang tua kita telah meninggal, salah satu cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal adalah dengan bersedekah untuk mereka.
Itu saja barangkali beberapa 3 hal yang dapat seorang anak lakukan sebagai cara berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal. Tentu bukan merupakan satu batasan, ada hal lain yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan bakti kita kepada orang tua kita yang telah tiada seperti menyambung tali silaturahmi dengan kerabat dekat orang tua kita dan lain sebagainya.

0 komentar:

Posting Komentar