MATERI BAHASA INDONESIA KELAS 12
Membedakan Fakta dan Opini
Materi Bahasa Indonesia SMA pun dalam proses pengembangannya mendapat perhatian khusus dari pihak dinas pendidikan mengingat diantara 3 strata sekolah, SMP, SMA, SMK dalam mengerjakan Ujian Nasional terjadi hal dimana nilai tidak lulus berada pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Materi Bahasa Indonesia pun menjadi perbincangan di kalangan para pengajar. Oleh sebab itu melalui berbagai uji coba materi bahasa indonesia secara lengkap bertujuan agar kedepannya dapat membalikkan opini bahwa fakta Materi Ujian Nasional Bahasa Indonesia SMA bukanlah materi yang sulit untuk dipelajari.
Nahhh… , dalam paragraf diatas membahas mengenai materi bahasa indonesia yang kini menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah. Fakta atau opini?. Pada kesempatan ini, ilmu bahasa ingin memberikan materi yang berjudul membedakan fakta dan opini. Sebelumnya juga sudah diterangkan bagaimana cara memberikan opini yang baik
Dalam berbahasa lisan, Anda sering mendengar orang mengucapkan kalimat berikut.
1. Kalau berbicara jangan asal, harus ada faktanya, dong!
2. Berdasarkan fakta-fakta yang ada, saya yakin Anda pelakunya.
Pada kalimat-kalimat contoh, terdapat kata fakta. Tahukah Anda apa yang
dimaksud dengan fakta itu? Fakta, biasanya, muncul dalam sebuah
informasi, baik informasi secara lisan maupun tulisan. Dalam pelajaran
ini, Anda akan mempelajari membedakan fakta dari opini dalam sebuah
laporan informasi. Dalam kegiatan sehari-hari, Anda sering mendengar
atau membaca berbagai informasi. Informasi berkembang dengan pesat
seiring dengan perkembangan teknologi. Berbagai jenis media bermunculan
seperti jamur di musim hujan mulai dari media cetak sampai media
elektronik. Banyaknya informasi yang berkembang menyebabkan Anda harus
mampu memilah informasi dengan baik. Oleh karena itu, keterampilan Anda
dalam membaca atau mendengar harus baik. Salah satu keterampilan dalam
membaca adalah mampu membedakan teks berisi fakta dari opini. Hal ini
mendorong Anda agar lebih kritis dalam memahami sebuah informasi.
Pengertian Fakta
Fakta adalah sebuah anggapan yang dituturkan atau dituliskan oleh
seseorang berdasarkan realita atau kenyataan yang sebenarnya. Fakta
digunakan untuk mengungkapkan sebuah hal yang benar-benar penting dan
berguna bagi masyarakat. Adanya fakta menjadikan sebuah informasi itu
benar-benar valid dan memiliki bukti otentik.
Contoh: "Indonesia merdeka pada tahun 1945". Pernyataan tersebut mengindikasikan sebuah fakta yang benar-benar memiliki sumber dan bukti nyata.
1. Menara eifel dulu dibangun oleh alien pada tahun 1923. Itu merupakan opini tanpa dasar realita. atau opini negatif
2. Menara eifel, menurut saya, adalah salah satu keajaiban di dunia yang sampai saat ini merupakan keajaiban yang paling masyur. Ini merupakan opini positif, karena bukti dan dasar yang dituturkan berdasarkan fakta yang ada.
Informasi dapat berbentuk lisan maupun tulisan. Informasi lisan, di antaranya adalah siaran radio/televisi atau laporan secara lisan. Informasi tulisan dapat Anda temukan dalam koran, majalah, tabloid, dan lain-lain. Dalam sebuah laporan, fakta merupakan kejadian yang nyata, sungguh-sungguh terjadi, dan diketahui oleh semua orang. Adapun opini merupakan gagasan atau pendapat yang dikemukakan dan bersifat subjektif. Namun, dalam sebuah informasi, fakta dan opini tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling melengkapi.
Contoh: "Indonesia merdeka pada tahun 1945". Pernyataan tersebut mengindikasikan sebuah fakta yang benar-benar memiliki sumber dan bukti nyata.
Pengertian Opini
Opini adalah sebuah anggapan yang dituturkan atau dituliskan oleh seseorang namun tidak memiliki bukti otentik tuturan yang diberikan. Opini lebih kepada sebuah persepsi atas sebuah peristiwa atau bahkan sama sekali bukan dari sebuah peristiwa. Opini bisa saja mengarah pada hal yang positif atau negatif. Berikut contohnya1. Menara eifel dulu dibangun oleh alien pada tahun 1923. Itu merupakan opini tanpa dasar realita. atau opini negatif
2. Menara eifel, menurut saya, adalah salah satu keajaiban di dunia yang sampai saat ini merupakan keajaiban yang paling masyur. Ini merupakan opini positif, karena bukti dan dasar yang dituturkan berdasarkan fakta yang ada.
Informasi dapat berbentuk lisan maupun tulisan. Informasi lisan, di antaranya adalah siaran radio/televisi atau laporan secara lisan. Informasi tulisan dapat Anda temukan dalam koran, majalah, tabloid, dan lain-lain. Dalam sebuah laporan, fakta merupakan kejadian yang nyata, sungguh-sungguh terjadi, dan diketahui oleh semua orang. Adapun opini merupakan gagasan atau pendapat yang dikemukakan dan bersifat subjektif. Namun, dalam sebuah informasi, fakta dan opini tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling melengkapi.
Kata serapan
Penyerapan kata asing dapat dilakukan dengan beberapa cara:
1.
Adopsi
Adopsi
adalah memungut secara utuh tanpa ada perubahan atau penyesuaian.
Contoh
: adopsi dari bahasa Cina,→ bakso, bakmi, cawan, kecap.
Dalam
bahasa inggris → start, stop, sport, planning.
2.
Adaptasi
Adapatasi
adalah memungut dengan menyesuaikan lafal/kaidah dalam bahasa indonesia.
Contoh
: adaptasi dari bahasa Belanda : voschot → persekot, voor-lopor → pelopor.
3.
Pungutan terjemahan
Contoh : sahih → valid, rakitan → assembling.

PERUBAHAN
MAKNA
JENIS PERUBAHAN MAKNA
1.
Perubahan makna meluas
Perubahan makna meluas adalah gejala
yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya hanya memiliki sebuah makna,
tetapi kemudian karena berbagai faktor menjadi memiliki makna-makna lain.
Contoh :
o Kata
baju
yang semula hanya bermakna “pakaian sebelah atas dari pinggang samapi ke
bahu” sekarang maknanya meluas termasuk celana, topi, dasi dan sepatu seperti
pada frase baju seragam.
o Kata
saudara dulu maknanya orang yang masih memiliki ikatan
darah (orang yang sekandung) sekarang maknanya untuk sapaan orang yang seusia/sebaya.
2.
Perubahan makna menyempit
Perubahan makna menyempit adalah
gejala yang terjadi pada sebuah kata yang dahulu mencakup makna yang lebih luas
(lebih dari satu makna), kemudian menjadi terbatas hanya pada sebuah makna
saja.
Contoh :
- Kata bau pada mulanya mengandung makna yang lebih luas untuk menyebut segala macam gas yang diserap oleh indra pencium. Sekarang kata bau selalu diartikan busuk. Bajunya bau.
- Kata sarjana dahulu mengandung makna meluas yakni orang yang pintar. Sekarang sarjana diartikan orang yang sudah lulus wisuda di universitas (perguruan tinggi)
3.
Peyoratif
Peyoratif atau peyorasi adalah gejala
perubahan pandangan terhadap makna kata yang dahulu dirasakan biasa atau bahkan
dianggap baik, sekarang dirasakan kasar, kurang baik atau tidak enak.
Contoh :
- Kata kaki tangan yang semula bermakna anggota badan yang utama, kemudian memperolah makna pem,bantu dalam arti biasa, sekarang kebanyakan dipakai dalam arti yang kurang baik, seperti pada frase kaki tangan musuh, kaki tangan pencoleng.
- Kata abang yang semula dipakai untuk sebutan kakak laki-laki, sekarang sering dipakai untuk menybut orang laki-laki yang berstatus rendah, seperti abang becak, abang bakso, bang sopir.
4.
Ameliorasi atau melioratif
Ameliorasi adalah pandangan terhadap
makna kata yang dahulu dirasakan biasa, sekarang dianggap lebih tinggiatau
lebih baik.
Contoh :
o
Kata putra sekarang dirasakan lebih tinggi nilainya dari
kata anak atau anak laki-laki.
o
Kata istri atau nyonya
dirasakan lebih tinggi nilainya dari
pada bini.
5.
Asosiasi
Asosiasi adalah perubahan
makna sebagai akibat adanya persamaan sifat. Makna asli
sering masih terdapat pada lingkungan semula pada benda atau keadaan tempat
makna itu lahir. Antara makna baru dengan makna lama ada pertalian erat.
Cotoh :
- Kata kunci berasal dari lingkungan alat-alat rumah. Dalam pengajaran, kunci berarti jawaban soal-soal yang telah disediakan oleh pembuat soal.
- Kata mencatut dari bidang perbengkelan yang berarti bekerja dengan menggunakan catut/tang, kemudian dipakai dalam bidang jual beli dengan arti “memperoleh keuntungan banyak dengan mudah” seperti frase mencatut tiket (orang yang menjual tiket/karcis di luar tempat yang ditentukan). Mencatut nama (menjual nama orang dengan tujuan mencari keuntungan).
6.
Sinestesia
Sinestesia adalah perubahan makna akibat
pertukaran pandangan antara dua indra yang berbeda. Biasanya pertuklarang
tanggapan ini terjadi antara indra pendengaran dan indra perasaan / pengecap
atau indra pendengaran dan indra penglihatan.
Contoh :
o
Wajahnya manis sekali
Kata manis sebenarnya tanggapan indra perasa lidah
o
Dengan nada keras, ia mengancam saya.
Kata keras sebenarnya adalah tanggapan indra
perasa tubuh
MENULIS SURAT LAMARAN PEKERJAAN
Dasar pengajuan surat lamaran
pekerjaan:
- Berdasarkan inisiatif sendiri atau informasi dari orang lain, teman dan kenalan.
- Berdasarkan iklan, baik media cetak seperti surat kabar maupun media elektronik seperti televise atau radio.
Prinsip-prinsip
penulisan bagian-bagian surat lamaran pekerjaan.
1. Penulisan tanggal surat dalam surat
lamaran pekerjaan.
Diketik
sebelah kanan atas, kiri atas atau kanan bawah. Nama tempat dituliskan. Nama
bulan dan tahun ditulis lengkap tanpa diakhiri dengan tanda titik. Misalnya, Lebong
Selatan, 2 November 2008 bukan Lebong Selatan-November-2008
2.
Penulisan lampiran dan perihal surat
Penulisan
lampiran dan perihal surat
diketik segarir dengan tanggal, bulan dan tahun. Lampiran dan nomor surat haruslah dibuat
sebagai berikut.
a.
Taat asas (disngkat semua atau ditulis utuh semua)
1. Nomor : 2.
No. :
Lampiran : Lamp. :
Perihal : Hal. :
b.
Penulisan
lampiran surat haruslah tepat. Misalnya Lampiran : Empat helai dan bukan
Lampiran
: 4 (empat ) helai
Perihal surat menunjukkan isi atau
inti surat secara singkat. Adapun penulisannya berwujud frasa dan dimulai
dengan huruf besar, tidak ada titik di belakangnya dan tidak digarisbawahi,
serta isinya harus lebih khusus.
3.
Penulisan alamat surat
Alamat
surat ditulis dengan aturan; (a) berisi nama orang atau jabatan, nama jalan dan
nomor rumah, serta nama kota, (b) di depan nama orang ditulis Yang terhormat (Yth.), (c) kata sapaan
Saudara, Bapak, Ibu digunakan di depan nama orang, dan tidak perlu jika diikuti
nama jabatan (Rektor, Kepala Sekolah, Camat, Bupati, dsb.), (d) nama jalan
tidak disingkat, (e) surat ditujukan kepada pejabatnya, dan bukan nama
kantornya, (f) nama kota tidak didahului kata depan di, dan (g) kata kepada
tidak perlu dituliskan sebab sudah jelas kepada siapa surat itu ditujukan.
4.
Penggunaan salam pembuka dan pembukaan isi surat lamaran pekerjaan
Salam pembuka resmi adalah Dengan hormat, dan diakhiri dengan tanda
koma. Pembukaan surat lamaran pekerjaan bisa berkaita dengan sumber lowongan
yang ada di pengumuman, iklan dan sebagainya.pelamar perlu meyebutkan sumber
lamaran.
Contoh:
Dalam harian umum Kompas, Minggu 8
Oktober 2008, saya membaca iklan lowongan pekerjaan sebagai editor di
perusahaan PT Bumi Aksara
PENULISAN ALENIA ISI SURAT UNSUR -UNSUR NOVEL ATAU CERPEN
1. Penokohan
Tokoh merupakan individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita.
Penokohan dalam cerita rekaan dapat diklasifikasikan melalui jenis tokoh, kualitas tokoh, bentuk watak dan cara penampilannya.
Jika dilihat dari cara menampilkan tokohnya ada yang ditampilkan dengan cara analitik dan dramatik. Penampilan secara anlitik adalah pengarang langsung memaparkan karakter tokoh, misalnya disebutkan keras hati, keras kepala, penyayang dan sebagainya. Sedangkan penampilan yang dramatik, karakter tokohnya tidak digambarkan secara langsung, melainkan disampaikan melalui; (1) pilihan nama tokoh, (2) penggambaran fisik atau postur tubuh, dan (3) melalui dialog
2. Alur
Pengertian alur dalam cerita pendek atau dalam karya fiksi pada umumnya adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa, sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.
Alur atau plot adalah rentetan peristiwa yang membentuk struktur cerita, dimana peristiwa tersebut sambung sinambung berdasarkan hukum sebab-akibat.
Sehubungan dengan penjelasan tersebut di atas menurut tasrif ada lima hal yang perlu diperhatikan pengarang dalam membangun cerita, yaitu : (1) situation, yakni pengarang mulai melukiskan suatu keadaan, (2) generating circumstances, yaitu peristiwa yang bersangkutan-paut, (3) ricing action, keadaan mulai memuncak, (4) climax, yaitu peristiwa mencapai puncak, dan (5) document, yaitu pengarang telah memberikan pemecahan persoalan dari semua peristiwa.
3. Latar
Menurut pendapat Aminuddin (1987:67), yang dimaksud dengan setting/latar adalah latar peristiwa dalam karya fiksi baik berupa tempat, waktu maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis.
Beberapa maksud dan tujuan pelukisan latar sebagai berikut :
1) Latar yang dapat dengan mudah dikenal kembali dan dilukiskan dengan terang dan jelas serta mudah diingat, biasanya cenderung untuk memperbesar keyakinan terhadap tokoh dan gerak serta tindakannya.
2) Latar suatu cerita dapat mempunyai relasi yang lebih langsung dengan arti keseluruhan dan arti umum dari suatu cerita.
3) Latar mempunyai maksud-maksud tertentu yang mengarah pada penciptaan atmosfir yang bermanfaat dan berguna.
4. Sudut Pandang
Sudut pandang membedakan kepada pembaca, siapa menceritakan cerita, dan menentukan struktur gramatikal naratif. Siapa yang menceritakan cerita adalah sangat penting, dalam menentukan apa dalam cerita, pencerita yang berbeda akan melihat benda-benda secara berbeda pula (Montaqua dan Henshaw, 1966:9).
Lebih lanjut Atar Semi (1988:57-58) menegaskan bahwa titik kisah merupakan posisi dan penempatan pengarang dalam ceritanya. Ia membedakan titik kisah menjadi empat jenis yang meliputi : (1) pengarang sebagai tokoh, (2) pengarang sebagai tokoh sampingan, (3) pengarang sebagai orang ketiga, (4) pengarang sebagai pemain dan narrator.
Menurut pendapat Aminuddin (1987:67), yang dimaksud dengan setting/latar adalah latar peristiwa dalam karya fiksi baik berupa tempat, waktu maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis.
Beberapa maksud dan tujuan pelukisan latar sebagai berikut :
1) Latar yang dapat dengan mudah dikenal kembali dan dilukiskan dengan terang dan jelas serta mudah diingat, biasanya cenderung untuk memperbesar keyakinan terhadap tokoh dan gerak serta tindakannya.
2) Latar suatu cerita dapat mempunyai relasi yang lebih langsung dengan arti keseluruhan dan arti umum dari suatu cerita.
3) Latar mempunyai maksud-maksud tertentu yang mengarah pada penciptaan atmosfir yang bermanfaat dan berguna.
4. Sudut Pandang
Sudut pandang membedakan kepada pembaca, siapa menceritakan cerita, dan menentukan struktur gramatikal naratif. Siapa yang menceritakan cerita adalah sangat penting, dalam menentukan apa dalam cerita, pencerita yang berbeda akan melihat benda-benda secara berbeda pula (Montaqua dan Henshaw, 1966:9).
Lebih lanjut Atar Semi (1988:57-58) menegaskan bahwa titik kisah merupakan posisi dan penempatan pengarang dalam ceritanya. Ia membedakan titik kisah menjadi empat jenis yang meliputi : (1) pengarang sebagai tokoh, (2) pengarang sebagai tokoh sampingan, (3) pengarang sebagai orang ketiga, (4) pengarang sebagai pemain dan narrator.
5. Gaya
Gaya adalah cara pengarang menampilkannya dengan menggunakan media bahasa yang indah, harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca. Hal tersebut erat kaitannya dengan kemampuan pengarang dalam penulisan cerita dengan penggunaan bahasa, karena cerita pada dasarnya bermediakan bahasa.
5.1 Gaya Bahasa
Pengembangan bahasa melalui sastra dikatakan bersifat pribadi karena sastra itu sendiri merupakan kegiatan yang pribadi dan perorangan, ia merupakan pengungkapan apa-apa yang menjadi pilihan pribadinya, hasil seorang sastrawan melihat lingkungannya dan memandang ke dalam dirinya.
5.2 Gaya Berbicara
Pada dasarnya gaya bercerita juga berperan penting bagi pengarang untuk menulis cerita, di samping gaya bahasa yang dipergunakannya, karena pengertian gaya cerita atau gaya bahasa pada umumnya dapat dijelaskan sebagai salah satu metode pengarang dalam melukiskan cerita, sehingga cerita dapat menarik bagi pembaca.
6. Tema
Tema sebagaimana pendapat Sudjiman merupakan sebuah gagasan yang mendasari karya sastra. Tema kadang-kadang di dukung oleh pelukisan latar, dalam karya yang lain tersirat dalam lakukan tokoh, atau dalam penokohan. Tema bahkan menjadi faktor yang mengikat peristiwa-peristiwa dalam satu alur.
Upaya pemahaman tema sebagai berikut:
1) Memahami setting dalam prosa fiksi yang dibaca
2) Memahami penokohan atau perwatakan para pelaku dalam prosa fiksi yang dibaca.
3) Memahami satuan peristiwa, pokok pikiran serta tahapan peristiwa dalam prosa fiksi yang dibaca.
4) Memahami plot atau alur cerita dalam prosa fiksi yang dibaca.
5) Menghubungkan pokok pikiran-pokok pikiran yang satu dengan yang lainnya yang disimpulkan dari satu-satuan peristiwa yang terpapar dalam suatu cerita.
6) Menentukan sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkan.
7) Mengidentifikasikan tujuan pengarang memaparkan ceritanya dengan bertolak dari satuan pokok pikiran serta sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya.
8) Menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta menyimpulkannya dalam satu dua kalimat yang diharapkan merupakan ide dasar cerita yang dipaparkan.
MENENTUKAN IDE POKOK DENGAN MEMBACA CEPAT
Membaca merupakan kebutuhan utama untuk seseorang yang ingin meningkatkan intelektualitas dan kualitas hidupnya. Dengan membaca, seseorang dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam berbagai hal.oleh karena itu, budaya baca harus terus dikembangkan.
Kalau kamu mau mencoba mengukur kecepatan membaca, ikutilah langkah-langkah berikut.
1. Catatlah waktu mulai membaca!
2. Tandailah di mana kamu mulai membaca!
3. Bacalah teks tersebut dengan kecepatan yang menurut kamu memadai!
4. Tandailah bagian akhir membaca!
5. Catatlah waktu berakhirnya membaca!
6. Hitunglah berapa waktu yang diperlukan!
7. Hitunglah jumlah kata dalam teks yang dibaca!
8. Kalikanlah jumlah kata dengan bilangan 60 per menit!
9. Bagilah hasil perkaliaan tersebut dengan jumlah waktu yang diperlukan untuk membaca tadi, maka hasilnya jumlah kata per menit.
MENENTUKAN IDE POKOK DARI BERBAGAI POLA PARAGRAF
KETERKAITAN GURINDAM DENGAN KEHIDUPAN SEHARI - HARI
kamu telah berlatih membacakan gurindam dengan lafal, intonasi, dan penghayatan yang baik, kemudian telah menganalisis dan mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam gurindam.
Sebagaimana telah didiskusikan, gurindam kaya dengan falsafah hidup dan nasihat.
SEJARAH SASTRA INDONESIA
Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
1. •Pujangga Lama
2. •Sastra "Melayu Lama"
3. •Angkatan Balai Pustaka
4. •Pujangga Baru
5. •Angkatan '45
6. •Angkatan 50-an
7. •Angkatan 66-70-an
8. •Dasawarsa 80-an
9. •Angkatan Reformasi
RSS Feed
Twitter
23.04
Nur Isna Rahmawati

0 komentar:
Posting Komentar