MATERI BAHASA INDONESIA KELAS 12
Membedakan Fakta dan Opini
Materi Bahasa Indonesia SMA pun dalam proses pengembangannya mendapat perhatian khusus dari pihak dinas pendidikan mengingat diantara 3 strata sekolah, SMP, SMA, SMK dalam mengerjakan Ujian Nasional terjadi hal dimana nilai tidak lulus berada pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Materi Bahasa Indonesia pun menjadi perbincangan di kalangan para pengajar. Oleh sebab itu melalui berbagai uji coba materi bahasa indonesia secara lengkap bertujuan agar kedepannya dapat membalikkan opini bahwa fakta Materi Ujian Nasional Bahasa Indonesia SMA bukanlah materi yang sulit untuk dipelajari.
Nahhh… , dalam paragraf diatas membahas mengenai materi bahasa indonesia yang kini menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah. Fakta atau opini?. Pada kesempatan ini, ilmu bahasa ingin memberikan materi yang berjudul membedakan fakta dan opini. Sebelumnya juga sudah diterangkan bagaimana cara memberikan opini yang baik
Dalam berbahasa lisan, Anda sering mendengar orang mengucapkan kalimat berikut.
1. Kalau berbicara jangan asal, harus ada faktanya, dong!
2. Berdasarkan fakta-fakta yang ada, saya yakin Anda pelakunya.
Pengertian Fakta
Contoh: "Indonesia merdeka pada tahun 1945". Pernyataan tersebut mengindikasikan sebuah fakta yang benar-benar memiliki sumber dan bukti nyata.
Pengertian Opini
Opini adalah sebuah anggapan yang dituturkan atau dituliskan oleh seseorang namun tidak memiliki bukti otentik tuturan yang diberikan. Opini lebih kepada sebuah persepsi atas sebuah peristiwa atau bahkan sama sekali bukan dari sebuah peristiwa. Opini bisa saja mengarah pada hal yang positif atau negatif. Berikut contohnya1. Menara eifel dulu dibangun oleh alien pada tahun 1923. Itu merupakan opini tanpa dasar realita. atau opini negatif
2. Menara eifel, menurut saya, adalah salah satu keajaiban di dunia yang sampai saat ini merupakan keajaiban yang paling masyur. Ini merupakan opini positif, karena bukti dan dasar yang dituturkan berdasarkan fakta yang ada.
Informasi dapat berbentuk lisan maupun tulisan. Informasi lisan, di antaranya adalah siaran radio/televisi atau laporan secara lisan. Informasi tulisan dapat Anda temukan dalam koran, majalah, tabloid, dan lain-lain. Dalam sebuah laporan, fakta merupakan kejadian yang nyata, sungguh-sungguh terjadi, dan diketahui oleh semua orang. Adapun opini merupakan gagasan atau pendapat yang dikemukakan dan bersifat subjektif. Namun, dalam sebuah informasi, fakta dan opini tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling melengkapi.

- Kata bau pada mulanya mengandung makna yang lebih luas untuk menyebut segala macam gas yang diserap oleh indra pencium. Sekarang kata bau selalu diartikan busuk. Bajunya bau.
- Kata sarjana dahulu mengandung makna meluas yakni orang yang pintar. Sekarang sarjana diartikan orang yang sudah lulus wisuda di universitas (perguruan tinggi)
- Kata kaki tangan yang semula bermakna anggota badan yang utama, kemudian memperolah makna pem,bantu dalam arti biasa, sekarang kebanyakan dipakai dalam arti yang kurang baik, seperti pada frase kaki tangan musuh, kaki tangan pencoleng.
- Kata abang yang semula dipakai untuk sebutan kakak laki-laki, sekarang sering dipakai untuk menybut orang laki-laki yang berstatus rendah, seperti abang becak, abang bakso, bang sopir.
- Kata kunci berasal dari lingkungan alat-alat rumah. Dalam pengajaran, kunci berarti jawaban soal-soal yang telah disediakan oleh pembuat soal.
- Kata mencatut dari bidang perbengkelan yang berarti bekerja dengan menggunakan catut/tang, kemudian dipakai dalam bidang jual beli dengan arti “memperoleh keuntungan banyak dengan mudah” seperti frase mencatut tiket (orang yang menjual tiket/karcis di luar tempat yang ditentukan). Mencatut nama (menjual nama orang dengan tujuan mencari keuntungan).
- Berdasarkan inisiatif sendiri atau informasi dari orang lain, teman dan kenalan.
- Berdasarkan iklan, baik media cetak seperti surat kabar maupun media elektronik seperti televise atau radio.
1. Penokohan
Tokoh merupakan individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita.
Penokohan dalam cerita rekaan dapat diklasifikasikan melalui jenis tokoh, kualitas tokoh, bentuk watak dan cara penampilannya.
Jika dilihat dari cara menampilkan tokohnya ada yang ditampilkan dengan cara analitik dan dramatik. Penampilan secara anlitik adalah pengarang langsung memaparkan karakter tokoh, misalnya disebutkan keras hati, keras kepala, penyayang dan sebagainya. Sedangkan penampilan yang dramatik, karakter tokohnya tidak digambarkan secara langsung, melainkan disampaikan melalui; (1) pilihan nama tokoh, (2) penggambaran fisik atau postur tubuh, dan (3) melalui dialog
2. Alur
Pengertian alur dalam cerita pendek atau dalam karya fiksi pada umumnya adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa, sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.
Alur atau plot adalah rentetan peristiwa yang membentuk struktur cerita, dimana peristiwa tersebut sambung sinambung berdasarkan hukum sebab-akibat.
Sehubungan dengan penjelasan tersebut di atas menurut tasrif ada lima hal yang perlu diperhatikan pengarang dalam membangun cerita, yaitu : (1) situation, yakni pengarang mulai melukiskan suatu keadaan, (2) generating circumstances, yaitu peristiwa yang bersangkutan-paut, (3) ricing action, keadaan mulai memuncak, (4) climax, yaitu peristiwa mencapai puncak, dan (5) document, yaitu pengarang telah memberikan pemecahan persoalan dari semua peristiwa.
Menurut pendapat Aminuddin (1987:67), yang dimaksud dengan setting/latar adalah latar peristiwa dalam karya fiksi baik berupa tempat, waktu maupun peristiwa, serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis.
Beberapa maksud dan tujuan pelukisan latar sebagai berikut :
1) Latar yang dapat dengan mudah dikenal kembali dan dilukiskan dengan terang dan jelas serta mudah diingat, biasanya cenderung untuk memperbesar keyakinan terhadap tokoh dan gerak serta tindakannya.
2) Latar suatu cerita dapat mempunyai relasi yang lebih langsung dengan arti keseluruhan dan arti umum dari suatu cerita.
3) Latar mempunyai maksud-maksud tertentu yang mengarah pada penciptaan atmosfir yang bermanfaat dan berguna.
4. Sudut Pandang
Sudut pandang membedakan kepada pembaca, siapa menceritakan cerita, dan menentukan struktur gramatikal naratif. Siapa yang menceritakan cerita adalah sangat penting, dalam menentukan apa dalam cerita, pencerita yang berbeda akan melihat benda-benda secara berbeda pula (Montaqua dan Henshaw, 1966:9).
Lebih lanjut Atar Semi (1988:57-58) menegaskan bahwa titik kisah merupakan posisi dan penempatan pengarang dalam ceritanya. Ia membedakan titik kisah menjadi empat jenis yang meliputi : (1) pengarang sebagai tokoh, (2) pengarang sebagai tokoh sampingan, (3) pengarang sebagai orang ketiga, (4) pengarang sebagai pemain dan narrator.
5. Gaya
Gaya adalah cara pengarang menampilkannya dengan menggunakan media bahasa yang indah, harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca. Hal tersebut erat kaitannya dengan kemampuan pengarang dalam penulisan cerita dengan penggunaan bahasa, karena cerita pada dasarnya bermediakan bahasa.
5.1 Gaya Bahasa
Pengembangan bahasa melalui sastra dikatakan bersifat pribadi karena sastra itu sendiri merupakan kegiatan yang pribadi dan perorangan, ia merupakan pengungkapan apa-apa yang menjadi pilihan pribadinya, hasil seorang sastrawan melihat lingkungannya dan memandang ke dalam dirinya.
5.2 Gaya Berbicara
Pada dasarnya gaya bercerita juga berperan penting bagi pengarang untuk menulis cerita, di samping gaya bahasa yang dipergunakannya, karena pengertian gaya cerita atau gaya bahasa pada umumnya dapat dijelaskan sebagai salah satu metode pengarang dalam melukiskan cerita, sehingga cerita dapat menarik bagi pembaca.
6. Tema
Tema sebagaimana pendapat Sudjiman merupakan sebuah gagasan yang mendasari karya sastra. Tema kadang-kadang di dukung oleh pelukisan latar, dalam karya yang lain tersirat dalam lakukan tokoh, atau dalam penokohan. Tema bahkan menjadi faktor yang mengikat peristiwa-peristiwa dalam satu alur.
Upaya pemahaman tema sebagai berikut:
1) Memahami setting dalam prosa fiksi yang dibaca
2) Memahami penokohan atau perwatakan para pelaku dalam prosa fiksi yang dibaca.
3) Memahami satuan peristiwa, pokok pikiran serta tahapan peristiwa dalam prosa fiksi yang dibaca.
4) Memahami plot atau alur cerita dalam prosa fiksi yang dibaca.
5) Menghubungkan pokok pikiran-pokok pikiran yang satu dengan yang lainnya yang disimpulkan dari satu-satuan peristiwa yang terpapar dalam suatu cerita.
6) Menentukan sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkan.
7) Mengidentifikasikan tujuan pengarang memaparkan ceritanya dengan bertolak dari satuan pokok pikiran serta sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya.
8) Menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta menyimpulkannya dalam satu dua kalimat yang diharapkan merupakan ide dasar cerita yang dipaparkan.
Membaca merupakan kebutuhan utama untuk seseorang yang ingin meningkatkan intelektualitas dan kualitas hidupnya. Dengan membaca, seseorang dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam berbagai hal.oleh karena itu, budaya baca harus terus dikembangkan.
Kalau kamu mau mencoba mengukur kecepatan membaca, ikutilah langkah-langkah berikut.
1. Catatlah waktu mulai membaca!
2. Tandailah di mana kamu mulai membaca!
3. Bacalah teks tersebut dengan kecepatan yang menurut kamu memadai!
4. Tandailah bagian akhir membaca!
5. Catatlah waktu berakhirnya membaca!
6. Hitunglah berapa waktu yang diperlukan!
7. Hitunglah jumlah kata dalam teks yang dibaca!
8. Kalikanlah jumlah kata dengan bilangan 60 per menit!
9. Bagilah hasil perkaliaan tersebut dengan jumlah waktu yang diperlukan untuk membaca tadi, maka hasilnya jumlah kata per menit.
KETERKAITAN GURINDAM DENGAN KEHIDUPAN SEHARI - HARI
kamu telah berlatih membacakan gurindam dengan lafal, intonasi, dan penghayatan yang baik, kemudian telah menganalisis dan mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam gurindam.
Sebagaimana telah didiskusikan, gurindam kaya dengan falsafah hidup dan nasihat.
SEJARAH SASTRA INDONESIA
Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
1. •Pujangga Lama
2. •Sastra "Melayu Lama"
3. •Angkatan Balai Pustaka
4. •Pujangga Baru
5. •Angkatan '45
6. •Angkatan 50-an
7. •Angkatan 66-70-an
8. •Dasawarsa 80-an
9. •Angkatan Reformasi
RSS Feed
Twitter
23.04
Nur Isna Rahmawati
